oleh

Memaknai Tahun Baru 2024 dengan Muhasabah Diri

-Pendidikan-4.780 views

Oleh: Muhammad, S.Ag MH (Kepala Kantor Urusan Agama Kec. Ketahun)

Berandang.com- Menyambut tahun baru 2024 dalam hitungan jam dan detik. Jutaan orang mempersiapkan diri, keluarga, kelompok, komunitas bahkan teman sekantor untuk merayakan dalam rangka menyambut tahun baru 2024 Masehi.

Momentum menyambut tahun baru 2024 banyak diisi dengan pesta kembang api, liburan, music di tepi pantai, pengajian bahkan maksiat di diskotik atau tempat hiburan. Bahkan tak jarang melakukan maksiat dan kemesuman.

Tahun baru 2024 ini, hendaknya di isi dengan muhasabatun nafsi (Introsfeksi diri). Dengan mengingat dosa-dosa masa setahun lalu dan tidak diulangi ditahun yang akan datang. Yaitu dengan bertobat atas dosa yang sudah dilakukan dan bertaqwa kepada Allah SWT.

Manusia dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya apabila dibandingkan dengan makhluk lain, menyebabkan ia melakukan kesalahan-kesalahan dan melalaikan, bahkan inkar terhadap perintah agama, maka manusia butuh untuk melakukan muhasabah diri untuk kepentingan diri sendiri.

Melakukan muhasabah atau introspeksi mutlak dilakukan, terlebih pada momen-momen tertentu, seperti halnya pergantian tahun. Hal ini dilakukan agar manusia mampu merefresh kembali jiwanya untuk menghadapai hari-hari berikutnya dengan semangat pengabdian dan ibadah kepada Allah Swt.

Tentang pentingnya muhasabah diri, ada baiknya merenungkan ucapan Umar bin Khattab yang sarat dengan makna. Ucapan beliau itu adalah sebagai berikut:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا وَتَزَيَّنُوْا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِى الدُّنْيَا

Hisablah diri (introspeksi) kalian sebelum kalian dihisab, dan berhias dirilah kalian untuk menghadapi penyingkapan yang besar (hisab). Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia.       

Biasanya anjuran ataupun pengingat agar kita senantiasa mengintrospeksi diri erat kaitannya dengan penambahan umur kita. Misalnya apakah umur kita gunakan untuk hal-hal yang baik, apakah ada peningkatan ke arah yang lebih baik atau malah sebaliknya, justeru kejahatan yang selalu menaik, kemunafikan dan kemusyrikan semakin meningkat. Maka disinilah pentingnya muhasabah atau instrospeksi.

Umar bin Khattab telah mengingatkan kita agar kita selalu mengevaluasi diri, tentu dengan harapan agar mampu memicu perbuatan yang sesuai dengan perintah Allah Swt. dan sesuai dengan rambu-rambu yang telah digariskan agama. Serta untuk memastikan bahwa perbuatan-perbuatan tercela sudah kita enyakan. Dengan harapan agar perbuatan yang sia-sia dan tercela tidak terulang kembali.

Kita simak nasihat Rasulullah Saw. dalam hadits riwayat Imam Tirmidzi dari Syaddad bin Aus Ra.:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

Orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah Swt.    

Muhasabah diri secara pribadi adalah sebuah keniscayaan. Apabila proses muhasabah ini dilakukan tentang seseorang atau kelompok masyarakat akan mampu meraih hikmah dan manfaatnya. Setidak-tidaknya, kata Imam Al-Ghazali muhasabah itu bermanfaat untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan diri, sehingga menjadi motivasi untuk memperbaiki kehidupan diri dalam usaha meningkatkan amal dan memperbaiki hubungan dengan Tuhan.

Lebih tegas lagi Imam Al-Ghazali memberikan semangat agar kita selalu bermuhasabah dalam situasi dan kondisi apapun sebagaimana ucapan beliau: Ketahuilah wahai hamba-hamba Allah, bagaimana seharusnya memiliki waktu di awal hari untuk berjanji kepada dirinya sendiri untuk berpegang teguh pada kebenaran, maka seharusnya ia juga memiliki waktu di akhir hari untuk menuntut jiwanya dan memperhitungkannya atas semua gerak-geriknya dan diamnya, sebagaimana yang dilakukan oleh para pedagang di dunia dengan para mitra mereka di akhir setiap tahun, bulan, atau hari, karena kegigihan mereka terhadap dunia, dan karena takut jika mereka kehilangan sesuatu dari dunia yang jika mereka kehilangannya, itu akan lebih baik bagi mereka jika hilang.

Diakhir tahun 2023 ini kita berharap semoga kita mampu untuk melakukan introspeksi atau muhasabah diri dengan mengilas balik dan mengambil hikmah dari rona dan warna kehidupan yang telah kita lalui sepanjang tahun 2023. Semoga Allah menjadikan hari-hari yang akan datang menjadi hari-hari yang lebih baik dari hari-hari yang telah kita lalui. *(ET)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *