terangbenderang

Kuwait; Metropolitan di Tengah Ladang Minyak

Admin
14 March 2020

 

Oleh: Brenny Novriansyah

Berandang.com- Deru mesin pesawat berbadan lebar B777-300ER terdengar sayup dari dalam kabin, mataku awas melihat layar LED mengamati pemandangan Kuwait yang ditangkap kamera bawah dan depan pesawat. Pesawat ini begitu nyaman kami tumpangi selama 4 jam lebih dari Delhi. Riuh obrolan penumpang tiba-tiba terpecah dengan himbauan dari cabin crew bahwa pesawat akan segera mendarat.

Hamparan gurun pasir berwarna orange kecoklatan tampak luas sepanjang mata memandang dari jendela cabin. Petak-petak berwarna hitam bak hamparan sawah rapi dibuat teratur memenuhi hampir keseluruhan daratan wilayah ini. Itulah ladang minyak yang menjadi sumber penghidupan masyarakat sini.

Seluas mata saya memandang, tak terlihat pohon yang dipenuhi dedaunan hijau yang lebat. Hanya ada pohon palem yang daunnya mulai mengering dan ditopang kayu agar tak roboh. Akhirnya pesawat berbadan besar yang aku tumpangi mendaratkan kakinya di bandara Kuwait. Ada banyak hal unik yang saya temui. Mulai dari toilet pria yang tidak menyediakan tempat urinoir, minuman keras yang dijual bebas, pekerja ticket counter yang rata2 orang Philippine, petugas kebersihan yang berasal dari Bangladesh, serta produk-produk dan coffee shop cafe asal Indonesia ada disana.

Lukisan diatas adalah masa awal-awal berdirinya bandara di Kuwait

Tetapi dibalik kegersangan itu, sungguh keadilan Allah SWT tampak dengan kemakmuran yang dimiliki penduduknya. Bahkan populasi pendatang lebih banyak daripada penduduk asli kuwait sendiri. Mereka rata-rata pebisnis tetapi ada juga yang bekerja sebagai karyawan pada perusahaan asing dan lokal. Sehingga bahasa Inggris lebih dominan digunakan dibanding bahasa Arab sendiri. Berada di negara ini serasa bukan sedang berada di Timur Tengah. Budaya lokal telah pudar oleh gemerlapnya budaya luar.

Saya berkesempatan berjumpa dengan beberapa diaspora Indonesia di sana. Ada yang sudah sukses menjadi CEO perusahaan minyak, ada yang bekerja sebagai perawat di rumah sakit pemerintah Kuwait, ada pula yang bekerja sebagai chef/juru masak pada hotel bintang lima. Candaan dan keakraban mereka para WNI masih kental khas Indonesia. Dapat berjumpa dengan WNI lain selama berada di negeri orang, seperti berjumpa dengan keluarga sendiri. Bahkan ada yang sampai curhat soal hubungan asmaranya dengan sesama karyawan asal India. Maklum, saat itu sudah 2 tahun lebih aku bermukim di India. Setidaknya, cukup mengenal karakter orang India seperti apa. Meski bergaji sangat besar +USD 1500, namun biaya hidup mereka juga sangat tinggi menjulang. Hal ini karena kebanyakan produk konsumsi yang ada dipasaran adalah barang impor, juga kurs mata uang Dinar Kuwait yang sangat tinggi.

Kadang aku berpikir, memang betul kata pepatah, “hujan emas di negeri orang, masih enak hujan air di negeri sendiri”. Sebesar apapun gaji dan senyaman apapun hidup di negeri orang, namun tetap saja orang Indonesia lebih senang hidup di negeri sendiri. Indonesia benar-benar surga dunia. Ia karunia Allah yang tak terhingga untuk umat manusia di planet ini. Banyak bangsa dari belahan bumi ini menggantungkan hidupnya dari kekayaan alam bumi nusantara ini. Sudah selayaknyalah kita bersyukur kepada Nya. “Nikmat mana lagi yang kamu dustakan”.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *