oleh

Khutbah Idul Adha 1444 H: Aktualisasi Nilai Kehidupan dari Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim

-Pendidikan-5.666 views

Oleh : H. Ahmad Farhan, SS., M.S.I

(Ketua Majelis Tabligh PWM Bengkulu, Dosen Ushuluddin UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, dan Mahasiswa Ph.D Universiti Islam Antarbangsa Sultan Abdul Halim Mua’dzam Shah (UniSHAMS) Malaysia)

10 Zulhijjah 1444 H/28 Juni 2023 M

 

اللهُ اَكْبَرُ. اللهُ اَكْبَرُ. اللهُ اَكْبَرُ

اللهُ اَكْبَرُ كَبِيْراً، وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْراً، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصيْلاً. لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهَ وَاللهُ اَكْبَرُ،

 اللهُ اَكْبَرُ وَلِلّهِ اْلحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ للهِ  الَّذِي هَدَانَا إِلَـى اْلإِيْمَانِ وَ اْلإِسْلاَمِ، وَ أَمَرَناَ بِشَرِيْعَةِ نُسُكِ الْحَجِّ إِلَـى الْبَيْتِ الْعَتِيْقِ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ.  أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ذُو الْعَرْشِ الْعَظِيْمُ،

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ الْهَـادِي إِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَي النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ  مُحَمَّدٍ وَعَلَي آلِهِ وَصَحْبِهِ الْمُتَمَسِّكِيْنَ بِالدِّيْنِ الْقَوِيْـمِ
اَمَّا بَعْدُ، فَيَاعِبَادَ اللهِ : أُوْصِيْنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ وَنَجَا الْمُطِيْعُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ:

 يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ وَلِلّهِ اْلحَمْدُ اللهُ اَكْبَر

Jama’ah sholat Ied yang berbahagia.

Alhamdulillah, kepada Allah terucap syukur tiada terkira, atas setiap anugerah yang telah kita terima, mulai dari kesehatan, kesempatan, kekayaan, kesuksesan hingga masih survive dalam kehidupan. Maka, tiada daya dan kuasa kita selaku hamba, melainkan semua atas takdir dan ketentuanNya. Maka kesyukuran itu hendaknya ditunjukkan dengan berbuat ketaatan, kepatuhan dan produktif dalam kebaikan. Karena tiada yang akan menyelamatkan kita baik di dunia maupun di hari kemudian, selain produktivitas dan ikhlas dalam   beramal kebaikan, serta saat mendapatkan rahmat dari sang Maha Rahman. Semoga kita semua senantiasa termasuk dari hamba Allah yang ahli ibadah, berintegritas dalam kerja, istiqamah, dan ending kehidupan husnul khatimah.

Salam dan shalawat menjadi niscaya untuk disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw sang Panutan dan teladan bagi orang beriman, Dia cahaya yang menerangi  gelapnya dunia, hadirnya menjadi berkah buat alam semesta. Semoga kita mendapatkan rahmat dari Allah dan syafaat Rasulullah hingga hidup berkah di dunia dan selamat di akhirat.

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Dalam sejarah para Nabi, kita mengenal ada mereka yang terpilih dan disebut dengan ulul azmi.  Ialah mereka 5 orang Nabi dan rasul yaitu Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad saw yang mempunyai kesabaran luar biasa, tangguh dan istiqamah  dalam menghadapi berbagai ujian serta  penderitaan saat  menjalankan tugas risalah kenabian.

Begitupun tatkala kita berada pada bulan Zulhijjah, ketika tiba hari raya Idhul Adha, maka memori pengetahuan kita  auto kembali kepada kisah keteladanan dari sosok Nabi Ibrahim as. Nabi yang dikenal juga dengan bapaknya para Nabi, khalilullah (kekasih Allah)  yang perjalanan hidupnya dihadapkan dengan ujian yang luar biasa tetapi tetap sabar, patuh dan ikhlas dalam menerimanya.

Dalam khutbah kali ini, mari sejenak kita merefresh kembali bagaimana karakter nabi Ibrahim a.s yang juga dapat kita jadikan teladan untuk diimplementasikan dalam mengarungi hidup di dunia ini yang tidak mudah, dengan  berbagai fitnah, rekayasa dan kejahatan manusia.

Perlu diingat dan dicatat, karakter Nabi Ibrahim yang tercipta bukanlah sesuatu yang diperoleh dengan  mudah,  melainkan diperoleh dengan dinamika kehidupan yang luar biasa. Kesemua itu menghadirkan Ibrahim sebagai sosok  anak yang cerdas, rasional dan kuat dalam iman, menegakkan Tauhid di hadapan ayah, masyarakat dan raja Namruz. Kesabaran dan keyakinan akan petunjuk Allah, membuatnya tampil tangguh dan kuat serta menjadi sosok suami hebat bagi istrinya dan ayah teladan bagi anaknya.

Dalam kehidupan rumah tangga, Ibrahim diuji kesabarannya karena belum mendapatkan keturunan. Setelah sekian lama akhirnya menikah dengan Hajar atas saran dan persetujuan Sarah. Dari pernikahan itu lahirlah  seorang putera yang lama telah dinantikan  yaitu Ismail.  Kebahagiaan yang sedang dirasa, sukacita yang sedang menjelma, ternyata datang pula ujian selanjutnya. Ibrahim diuji Allah dengan ketaatan dan pengurbanan dengan perintah menyembelih putranya. Perintah yang dilihat dalam tidur dan mimpinya. Mari kita hayati firman Allah dalam QS. al-Shaffat: 100-102:

رَبِّ هَبۡ لِي مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ *  فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ  *  فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ  *

Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh. Maka kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Ismail). Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berjalan bersamanya, Ibrahim berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu. Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” 

اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَر اللهُ اَكْبَرُ وَلِلّهِ اْلحَمْدُ اللهُ

Hadirin jamaah sholat Id Rahimakumullah

Bayangkan…bagaimanakah kondisi psikologis  Ibrahim saat itu? Lalu bagaimana jika kita yang memperoleh perintah begitu?  Sanggupkah kita? Mampukan kita? Bagaimana dengan Ibrahim yang siap sedia, rela dan taat atas perintah Allah. Inilah nilai luar biasa dari arti sebuah ketaatan dan ketundukan. Inilah bukti dan wujud nyata dari sebuah keimanan.  Sejenak kita flashback dengan merasakan kondisi saat itu yang dialami Ibrahim. Betapa ujian terus dialami, dan semua dihadapi dengan keikhlasan. Boleh saja kita berkata bahwa kegembiraan harus berganti kesedihan jika melaksanakan perintah yang didapatkan. Saat harta yang berharga yaitu seorang putera harus disembelih demi menjalankan perintah Allah,  tapi semua diterima dengan keikhlasan, respon itupun diamini oleh Ismail meski nyawa taruhannya.  Sabar dan ikhlas yang dimiliki keduanya sebagai respon ketaatan  selaku seorang ayah dan anak menunjukkan karakter hebat yang menjadi akhlak tiada ternilai sebagai sikap hidup seorang hamba kepada Allah. Alhasil. keduanya berhasil dan lulus dalam ujian ini. Allah menegaskan dalam QS. al-Shaffat: 104- :

 

وَنَٰدَيْنَٰهُ أَن يَٰٓإِبْرَٰهِيمُ ، قَدْ صَدَّقْتَ ٱلرُّءْيَآ ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ. إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلْبَلَٰٓؤُا۟ ٱلْمُبِينُ. وَفَدَيْنَٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ. وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى ٱلأخِرِينَ. سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ

 

Allah menyeru: “Hai Ibrahim! Sesungguhnya telah engkau benarkan mimpi itu. Kami beri ganjaran kepada orang yang berbuat kebajikan. Sesungguhnya ini benar-benar suatu percobaan yang nyata. Dan telah Kami tebus dia (anak itu) dengan seekor sembelihan yang besar. Dan Kami tinggalkan sebutannya pada orang-orang yang datang kemudian. Salam sejahtera atas Ibrahim.” 

 

Allahu Akbar, sungguh pelajaran sempurna dari arti sebuah pengorbanan. Pengorbanan yang abadi untuk diteladani yang hingga kini menjadi landasan teologis filosofis pelaksanaan penyembelihan hewan kurban pada hari raya Idul Adha.   Sebuah pujian dari Allah “  salamun ala ibrahim “ atas  keikhlasan dan pengorbanan yang dilakukan Ibrahim merupakan wujud apresiasi tinggi sang Khaliq kepada hambaNya.  Oleh karena itu, semua kita pada dasarnya adalah Ibrahim. Ibrahim yang memiliki Ismail. Ismail kita boleh jadi, kekayaan, jabatan, perniagaan, reputasi, materi hingga gelar bergengsi yang kita miliki. Mungkin saja, Ismail kita adalah harta, tahta dan keluarga. Mungkin juga Ismail itu adalah ego kita, bahkan semua yang kita usahakan, pertahankan dan dalam penguasaan di dunia. Padahal Ibrahim tidak diperintahkan untuk membunuh Ismail, melainkan Ibrahim hanya diminta untuk membunuh  rasa “kepemilikan” dan “penguasaan terhadap sesuatu”, karena Ismail pada hakikatnya adalah milik Allah.

 

Ma’asyiral Muslimin Sidang Eid Adha

Dalam momen Idul Adha dan hari raya kurban ini, banyak nilai edukasi luhur dari  kisah manusia agung yang diutus oleh Allah SWT untuk menjadi Nabi dan Rasul, yakni Nabi Ibrahim as beserta keluarganya, Hajar dan Ismail as. Keagungan pribadinya menjadikan kita, bahkan Nabi Muhammad Saw, harus mampu mengambil nilai-nilai itu yang dapat kita aktualisasikan dalam kehidupan. Di antara nilai-nilai itu adalah:

Pertama,  Pendidikan dalam keluarga. Inilah salah satu role model   dan potret keluarga nyaris sempurna baik  dalam membina keluarga sakinah, dengan akidah yang lurus, pendidikan anak yang mumpuni, relasi suami-istri, serta  bagaimana berperan sebagai pemimpin rumah tangga  yang sukses menjadikan keluarga dalam bahtera selamat dunia akhirat. Maka sangat tepat menjadikan keluarga Ibrahim  sebagai contoh dalam kehidupan berkeluarga secara komprehensif  yang sarat dengan pembinaan keimanan dan keteladanan dalam ketaatan baik dari seorang ayah maupun ibu serta kerelaan untuk berkorban. Lihatlah bagaimana fenomena keluarga hari ini, tidak sedikit bermasalah dan berantakan,  orang tua minim keteladanan, anak-anak jauh dari ketaatan,  aturan agama nomor sekian, maraknya perselingkuhan hingga ramai fakta perceraian.

Kedua,  membuka ruang dialog untuk bermusyawarah. Mari kita menyimak kembali sebuah komunikasi dan dialog Ibrahim selaku ayah dan Ismail sebagai anak pada saat menceritakan perintah dalam mimpi.  Diksi yang digunakan adalah “wahai anakku, “ dan “bagaimana pendapatmu”  merupakan isyarat luar biasa bagi model komunikasi dan dialog seorang ayah dan anak sebelum memutuskan sesuatu. Ibrahim mengajak dialog, meminta pendapat, masukan, dan persetujuan Ismail. Inipun bisa disebut sebagai pendidikan karakter untuk saling menghargai,  mendahulukan musyawarah, dan menguatkan keyakinan dalam menjalankan perintah Allah. Begitulah persoalan dalam keluarga hendaknya dibicarakan dengan musyawarah dan saling mendengarkan pendapat bukan dengan pemaksaan. Ibrahim tampil sebagai seorang ayah yang demokratis di keluarga, dan mengutamakan dialog, serta tidak memaksakan kehendaknya sendiri.

Ketiga,  kecintaan kepada Allah di atas segalanya. Apa yang menyebabkan Ibrahim mau melaksanakan perintah? Apa juga yang membuat Ismail dengan tegas mengiyakan perintah untuk disembelih ayahnya? Apa yang menjadikan keluarga ini rela dan ikhlas untuk berkorban? Tentu semua itu juga karena dilandasi cinta dan kecintaan kepada Allah melebihi dari kecintaan kepada selainNya. Cinta merupakan kesadaran diri dan perasaan jiwa yang mendorong hati manusia untuk siap melakukan apa saja untuk yang dicintainya. Ibnu Abbad mengatakan bahwa cinta itu menuntut pengorbanan segala hal besar maupun hal kecil dari pecinta untuk kesenangan kekasihnya tanpa menuntut bagian yang harusnya ia terima dari kekasihnya. Ini salah satu bagian dari kelaziman riil sebuah cinta.” Maka, kecintaan Ibrahim  dan Ismail kepada Allah menjadikan keduanya rela  mengorbankan apa saja, termasuk hal yang paling dicintainya di dunia. Cinta itu mengalahkan nafsu-nafsu duniawi, serta menundukkan keinginan keduanya atas perintah Allah SWT.

اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ وَلِلّهِ اْلحَمْدُ اللهُ اَكْبَر .

Jamaah ‘Id Rahimakumullah!

Keempat, nilai keikhlasan. Bahwa apapun yang kita lakukan dengan segala  kecintaan  dan kepasarahan kepada Allah dengan harapan berbuah rahmat dan ridhaNya merupakan bentuk dari sebuah keikhlasan. Ikhlas emang tidak mudah, tapi niscaya dan harus diikhtiarkan juga. Rasa ikhlas itulah yang akan melapangkan jiwa, memudahkan semua yang kita lakukan, apalagi dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah. Untuk itu, kalau bukan karena keikhlasan dan ketaqwaan, maka Allah mengisyaratkan dalam QS. Al-Hajj: 37 bahwa  kurban yang kita lakukan dengan menyembelih hewan, menumpahkan darah dan daging yang disedekahkan tidak akan sampai kepada Allah.  Bahwa kurban yang kita lakukan tiada lain sebagai bentuk cinta, respon ketaatan dan keikhlasan  kita kepada Allah untuk melawan rasa cinta harta berlebihan, serta sulit untuk berbagi dan peduli kepada mereka yang mustad’afin,  fakir dan miskin.

Dengan demikian, keteladaan keluarga Ibrahim ini  merupakan warisan penting yang sebisa mungkin diaktualisasikan dalam kehidupan hari ini. Dibutuhkan ketahanan keluarga yang baik dan tangguh dalam merespon berbagai problem, tantangan hingga fitnah yang sangat dekat dan berkelindan kuat dalam kehidupan keluarga, masyarakat di semua aspeknya. Potret keluarga Ibrahim as telah mengajarkan kepada kita semua dalam  mempertahankan dan memperkokoh jati diri sebagai seorang mukmin yang selalu berusaha untuk konsisten dan istiqamah pada jalan hidup yang benar, apapun tantangan, keadaan dan bagaimanapun situasi serta kondisinya.

Jati diri luhur yang telah ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim as tidak hanya saat ia masih muda belia. Tapi sampai dengan peristiwa yang amat menakjubkan, saat Ibrahim diperintah oleh Allah SWT untuk menyembelih Ismail sang putra, sedangkan dia dalam usia yang sudah tua. Maka Ibrahim pun melaksanakan perintah Allah SWT yang terasa lebih berat dari sekedar menghancurkan berhala-berhala di masa mudanya.  Ini menunjukkan kepada kita bahwa Ibrahim memiliki idealisme dari muda sampai tua dan inilah yang amat dibutuhkan dalam kehidupan hari ini, jangan sampai ada generasi yang pada masa mudanya menentang kezaliman, tapi ketika ia berkuasa pada usia yang lebih tua justru ia sendiri yang melakukan kezaliman.

Jangan sampai ada generasi yang semasa muda menentang korupsi, tapi saat ia berkuasa atau dipercaya menjadi pejabat atau wakil rakyat di usianya yang sudah semakin tua justru ia sendiri yang melakukan korupsi.  Fenomena ini tidak jarang kita temukan dalam kehidupan hari ini, ada orang yang tidak sanggup mempertahankan idealisme sehingga apa yang dahulu diucapkan tidak tercermin dalam langkah dan kebijakan hidup yang ditempuhnya, apalagi bila hal itu dilakukan karena terpengaruh oleh sikap dan prilaku orang lain yang tidak baik. Huzaifah meriwayatkan dari Rasulullah:

 

لاَتَكُوْنُوْا اِمَّعَةً تَقُوْلُوْنَ: اِنْ اَحْسَنَ النَّاسُ اَحْسَنَّا، وَاِنْ ظَلَمُوْاظَلَمْنَا. وَلكِنْ وَطِّنُوْا اَنْفُسَكُم، اِنْ اَحْسَنَ النَّاسُ اَنْ تُحْسِنُوْا،  وَاِنْ اَسَاءُوْا اَنْ لاَتَظْلِمُوْا.

 

“Janganlah kamu menjadi orang yang ikut-ikutan. Kamu berprinsip kalau orang lain baik, kami pun akan berbuat baik dan kalau mereka berbuat zalim, kami pun akan berbuat zalim. Tetapi teguhkanlah dirimu dengan berprinsip, kalau orang lain berbuat kebaikan maka  berbuatlah kebaikan pula dan kalau orang lain berbuat kejahatan maka janganlah kamu turut melakukannya.” (HR. Tirmidzi).

 

Jamaah ‘Id yang dirahmati Allah

Akhirnya, kepada Allah kita bermohon dan beserah,  semoga kita, keluarga dan saudara-saudara kita, serta para pemimpin kita,  senantiasa diberikan hidayah, dijauhkan dari fitnah, melapetakan dan kejahatan manusia serta digolongkan sebagai hambaNya bertaqwa. Ya Aziz , ya Allah yang Maha Bijaksana, sebenarnya  kami malu berbicara pada-Mu,  maka kami berbicara pada diri sendiri, dan kepada hamba-Mu yang berada di sini. Kiranya Engkau mengabulkan doa dan hajat kami semua. Mari kita bersama-sama berdo’a dan mengaminkannya  kepada Allah yang Maha Pengasih dan Maha Bijaksana.

 

اَعُوْذُ باِللهِ مِنَ الشَّيْطاَنِ الَّرجِيْمِ  بِسْم اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ ، الْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَاْلمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ. اللَّهُمَّ اِغفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءَ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتَ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

اللَّهُمَّ اِدْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ  وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ . وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبرَكَاتُهُ.

 

[1] Ketua Majelis Tabligh PWM Bengkulu, Dosen Ushuluddin UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, dan Mahasiswa Ph.D Universiti Islam Antarbangsa Sultan Abdul Halim Mua’dzam Shah (UniSHAMS) Malaysia

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *